Home » » Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kuantitatif

Written By yatamu nashihuddin on Saturday, January 26, 2013 | 6:52 PM


PENELITIAN KUANTITATIF

A.    Pendahuluan
Masalah penelitian  memerlukan pembahasan dan pemecahan informasi yang menyiratkan adanya kemungkinan pengumpulan dan analisis data secara empiris yang dapat dirumuskan melalui proses penelitian dan penjelasan deskriptif tentang satu variabel. Masalah penelitian harus dinyatakan secara jelas dan spesifik. Masalah penelitian dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu: observasi terhadap praktik, deduksi dari teori kepustakaan hasil penelitian, masalah sosial yang sedang terjadi, situasi praktis, dan pengalaman pribadi. Masalah penelitian harus memenuhi beberapa criteria diantaranya: baru, bermanfaat, menarik dan menantang secara intelektual, sesuai dengan keahlian peneliti, tersedia data dan metode, tersedia alat khusus bila diperlukan, penyandang dana dan kerjasama administratif, tersedia biaya waktu yang cukup, dan tidak membahayakan baik bagi peneliti ataupun orang lain.
            Suatu penelitian tidak akan berjalan baik tanpa adanya metodologi. Metodologi penelitian adalah ilmu yang membicarakan  tentang bagaimana cara melakukan penelitian ?, sedangkan metode penelitian yang mencakup prosedur dan kaidah-kaidah yang harus ditempuh ketika akan melakukan penelitian.
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.  Antara penelitian dan metode ilmiah, kadang-kadang disamakan artinya. Penyamaan tersebut terjadi karena adanya langkah-langkah yang relatif sama. Perbedaan pokok antara penelitian dengan metode ilmiah dapat dilihat dari kegiatannya. Kerja penelitian menuntut objektivitas, baik di dalam proses atau pengukurannya, maupun penyimpulan hasil. Suatu kerja penelitian juga memerlukan proses intensif, sistematik, berfokus dan lebih formal. Selain itu, suatu kerja penelitian dilakukan dalam rangka penemuan dan pengembangan bangunan ilmu (pengembangan generalisasi, prinsip-prinsip dan teori-teori) yang memiliki kekuatan deskripsi dan atau prediksi.  Sedangkan metode ilmiah mementingkan aplikasi berpikir deduktif induktif di dalam pemecahan masalah. Dalam hubungan ini, bisa mengikuti proses identifikasi masalah (pengembangan hipotesis), melakukan observasi, menganalisis kemudian menyimpulkan hasilnya. Proses-proses tersebut dapat dilakukan secara informal dalam kehidupan sehari-hari dan belum tentu dapat disebut sebagai suatu kerja penelitian.
Dalam penelitian dikenal istilah kuantitatif dan kualitatif.  Di tingkat metodologi, sejak awal pertumbuhan ilmu-ilmu sosial sudah dikenal ada dua mazhab penelitian sosial. Dalam konteks ini Sanapiah Faisal membaginya menjadi 2 yaitu: Pertama, mazhab penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kuantitatif, atau yang lebih populer dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kuantitatif. Kedua, mazhab penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kualitatif, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kualitatif. Munculnya dua mazhab pendekatan penelitian tersebut merupakan konsekuensi metodologis dari perbedaan asumsi masing-masing tentang hakikat realitas sosial dan hakikat manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kehadiran pendekatan penelitian kuantitatif  di satu pihak dan kehadiran pendekatan penelitian kualitatif di lain pihak, tidak terlepas dari perbedaan paradigma antara keduanya di dalam memandang hakikat realitas sosial dan hakikat manusia. 
Suharsimi Arikunto berpendapat kaitan pilihan memulai dan memilih suatu pendekatan atau metode ilmiah juga yang ada dalam penelitian tentu tidak bisa terlepas dari kebaikan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu untuk dapat memberikan pertimbangan dan keputusan mana yang lebih baik dalam penggunaan suatu pendekatan maka terlebih dahulu perlu dipahami masing-masing pendekatan tersebut   .
B.     Pengertian Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif dibangun oleh paradigma positivism dengan tokohnya David Hume, John Locke, dan Berkeley yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan dan memandang pengetahuan memiliki kesamaan hubungan dengan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. Untuk selanjutnya penelitian kuantitatif dikembangkan oleh para penganut paham positivisme yang dipelopori oleh August Comte. Mereka berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu social, maka metode metode Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial.
Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.
Metode kuantitatif sering juga disebut metode tradisional, positivistik, scientific dan metode discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini disebut sebagai metode ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Penelitian kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai (value free). Dengan kata lain, penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui penggunaan instrumen yang telãh diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti yang melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi. Jika dalam penelaahan muncul adanya bias itu, penelitian kuantitatif akan jauh dari kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya  .
Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan  .
Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang  kemudian menghasilkan data kuantitatif.

C.    Pandangan Dasar, Karakteristik Penelitian dan Proses Penelitian Kuantitatif
Dalam hal pendekatan, penelitian kuantitatif lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujian yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya,  seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan pada makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
Dalam penelitian kuantitatif diyakini adanya sejumlah asumsi sebagai dasar dalam melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah:
1.    objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya.
2.      suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
3.    Suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Sejalan dengan penjelasan diatas, secara epistemologi paradigma kuantitatif  berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua hal, yaitu pemikiran rasional dan empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi (sesuai dengan teori-teori terdahulu) dan korespondensi (sesuai dengan kenyataan empiris). Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus, logico, hipotetico dan verifikatif.
Ada tiga hal mendasar yang harus diketahui dalam penelitian kuantitatif yaitu aksioma, karakteristik penelitian dan proses penelitian.
1.    Aksioma (Pandangan Dasar)
Aksioma meliputi realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variable, kemungkinan generalisasi dan peranan nilai.

Aksioma Dasar     Metode Kuantitatif
Sifat realitas     Dapat diklasifikasikan, konkrit, teramati, terukur
Hubungan
peneliti dengan yang diteliti     Independen, supaya terbangun obyektivitas
Hubungan variabel     Kausalitas (sebab-akibat)
Kemungkinan generalisasi     Cenderung membuat generalisasi
Peranan nilai     Cenderung bebas nilai

b.    Karakteristik Penelitian
Penelitian kuantitatif memiliki beberapa karakteristik berikut:
1.      Desain
-          Spesifik, jelas, rinci
-          Ditentukan secara mantab sejak awal
-          Menjadi pegangan langkah demi langkah.
2.      Tujuan
-          Menunjukkan hubungan antar variable
-          Menguji teori
-          Mencari generalisasi yang memiliki nilai prediktif
3.      Tehnik Pengumpulan data
-          Kuesioner
-          Observasi dan wawancara terstruktur
4.      Instrumen Penelitian
-          Tes, angket, wawancara terstruktur
-          Instrument yang telah terstandart
5.      Data
-          Kuantitatif
-         Hasil pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument
6.      Sampel
-          Besar
-          Representatif
-          Sedapat mungkin random
-          Ditentukan sejak awal
7.      Analisis
-          Setelah sèlesai pengumpulan
-          Deduktif
-          Menggunakan statistik
8.      Hubungan dengan Responden
-           Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif 
-           Kedudukan peneliti lebih  tinggi daripada responden
-          Jangka pendek sampai hipotesis dapat ditemukan.
9.      Usulan Desain
-          Luas dan rinci
-          Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti
-          Prosedur yang spesifik dan rinci langkah langkahnya
-          Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
-          Hipotesis dirumuskan dengan jelas
                   -          Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
10.     Kapan penelitian dianggap selesai?
        -         Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
11.  Kepercayaan terhadap hasil Penelitian
       -       Pengujian validitas dan realiabilitas instrument  .

c. Proses Penelitian
    Pada prinsipnya penelitian adalah untuk menjawab masalah. Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaannya, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan dan sebagainya. Proses penelitiannya adalah sebagai berikut:
1)     Penelitian kuantitatif  bertolak dari studi pendahuluan dari obyek yang diteliti untuk mendapatkan yang betul-betul masalah. Supaya masalah dapat dijawab dengan baik maka masalah tersebut dirumuskan secara spesifik Dan pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimah tanya.
2)    Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (hipotesis), peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan masalah dan berfikir. Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan  masalah penelitian (hipotesis).
3)    Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode/strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai.
4)    Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian.
5)    Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi maupun sampel. Bila ingin membuat generalisasi terhadap temuannya, maka sampel yang diambil harus representatif (mewakili).
6)    Setelah data yang terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan statistik tertentu.
7)    Kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu periode penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah  .

D.    Penggunaan Metode Penelitian Kuantitatif
     Metode penelitian kuantitatif tepat digunakan:
1.    Jika masalah yang menjadi titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah kesenjangan antara harapana dan kenyataan (das sollen dan das sein), antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan dan sebagainya. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah ini harus ditunjukkan dengan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun dokurnentasi. Misalnya akan meneliti untuk menemukan pola pemberantasan kemiskinan, maka data orang miskin sebagai rnasalah harus ditunjukkan.
2.    Jika peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan infomasi yang luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
3.    Jika ingin diketahui pengaruh perlakuan/treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok digunakan. Misalnya pengaruh jamu tertentu terhadap derajat kesehatan.
4.   Jika peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian   dapat berbentuk hipotesis deskriptif komparatif dan asosiatif.
5.    Jika peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur. Misalnya ingin mengetahui IQ anak-anak dan masyarakat tertentu, maka dilakukan pengukuran dengan test IQ.
6.   Jika ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu  .

E.    Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif
1.    Penyusunan Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi  dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya.
Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang masalah berisi:
a.    Argumentasi; mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari segi keilmuan maupun kebutuhan praktis.
b.    Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c.    Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian 
d.   Penjelasan bahwa masalah  tersebut relevan, aktual  dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman.
e.    Relevansinya dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
f.    Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu .

2.    Identifikasi, Pemilihan  dan Perumusan Masalah
a.    Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.
Stonner (1982) mengatakan bahwa masalah-masalah yang dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi  .
b.    Pemilihan Masalah
Setiap penelitian selalu berawal dari masalah, namun masalah yang dibawa peneliti kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa oleh peneliti harus memiliki ciri-ciri:
1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)
2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)
3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti
4). Menghubungkan dua variabel atau lebih .


c.    Perumusan Masalah 
Setelah masalah diidentifikasikan dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dengan kriteria:
1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2). Jelas dan padat
3).  Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian
Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian  ini dikembangkan berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi (level of explanation). Bentuk masalah dapat dikelompokkan ke dalam bentuk masalah:
1). Rumusan Masalah Deskriftif. Yaitu suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).
2).  Rumusan masalah Komfaratif. Yaitu rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
3).   Rumusan masalah Assosiatif. Yaitu suatu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan nteraktif.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut :
1)    Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.
2)    Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3)    Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur  . 

3.    Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan. Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis.

4.    Telaah Pustaka
              Manfaat Telaah Pustaka antara lain :
a.    Untuk memperdalam  pengetahuan tentang masalah yang diteliti
b.    Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran
c.    Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa
d.    Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian

5.    Pembentukan Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisis data. Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.
Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus mempunyai relevansi yang kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih  maka dalam landasan teori harus dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.
Ada tiga jenis teori yang berhubungan dengan data empiris, yaitu:
a.    Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu kearah data yang akan diterangkan.
b.    Teori yang induktif : cara menerangkan adalah dari data kearah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
c.    Teori yang fungsional : disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teri kembali mempengaruhi data  .

6.    Perumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara  teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa merupakan kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang  akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.
7.    Definisi Operasional Variabel Penelitian
Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat seperti konsep meja, kursi dan sebagainya dan ada konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seeprti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi operasional.
Definisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.
Konsep yang mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:
a.    Variabel deskrit/katagorikal misalnya : variabel jenis kelamin.
b.    Variabel  Continues misal : variabel umur
Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:
1.    Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali memiliki lebih dari satudimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur, semakin baik ukuran yang dihasilkan.
2.    Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan, barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
3.    Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal, ordinal, interval, atau ratio.
4.    Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat ukur yang baru.
Contoh yang bagus proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark (dalam Ancok:1989) yang mengembangkan  suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka konsep religiusitas mempunyai lima dimensi sebagai berikut :  
1.    Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang beragama Islam. atau pergi ke gereja dan kegiatan ritual lainnya bagi yang beragama Kristen.
2.    Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misalkan apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain hal yang sifatnya dogmatik.
3.    Intellectual Involvement, sebenarnya jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan orang pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
4.    Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah di apernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
5.    Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin. Menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain.
Dimensi-dimensi yang disebut  di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan komponen alat pengukur yang terhadap dimensi tingkat religiusitas.
8.    Validitas dan Reliabiltas Instrumen
Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur variabel yang kita teliti sebelumnya harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Bila  instrumen/alat ukur tersebut tidak valid maupun reliabel, maka tidak akan diperoleh hasil penelitian yang baik.
Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat  pengukur betul-betul mengukur apa yang akan diukur. Ada beberapa jenis validitas, namun yang paling banyak dibahas adalah validitas konstruk.  Konstruk atau kerangka konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggabarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok  atau individu yang menjadi pusat perhatian penelitian. Konsep itu kemudian  seringkali masih harus diubah menjadi definisi yang operasional, yang menggambarkan bagaimana mengukur suatu gejala. Langkah selanjutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan/ pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan definisi itu.
Untuk mencari definisi konsep tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara sebagai berikut :
1.    Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli. Untuk ini perlu dipelajari buku-buku referensi yang relevan.
2.    Kalau dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi konsep-konsep penelitian, maka peneliti  harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk tujuan ini peneliti dapat mendiskusikan dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep yang akan diukur.
3.    Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden  . Misalnya peneliti ingin mengukur konsep “religiusitas”. Dalam mendefinisikan konsep ini peneliti dapat langsung menanyakan  kepada beberapa calon responden tetnang ciri-ciri orang yang religius. Berdasar jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu konsep. Apabila terdapat konsistensi antra komponen-komponen konstruk yang  satu dengna lainnya, maka konstruk itu memiliki validitas.  
Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen/alat pengukur ialah dengan mengkorelasikan skor/nilai yang diperoleh pada masing-masing pertanyaan/pernyataan dari semua responden dengan  skor/nilai total semua pertanyaan/pernyataan dari semua responden. Korelasi antara skor/nilai setiap pertanyaan/pernyataan dan skor/nilai total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu misalnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan/konsistensi  hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan mantap  atau konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama.
Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai.
Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut.
Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: a. teknik ulangan, b. teknik bentuk pararel dan c. teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua.
Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a.    Mengajukan instrumen kepada sejumlah responden kemudia dihitung validitas itemnya. Item yang valid dikumpulkan menjadi satu, item yang tidak valid dibuang.
b.    Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan. Untuk mebelah instrumen menjadi dua, dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut: 1). Membagi item dengan cara acak (random). Separo masuk belahan pertama, yang separo lagi masuk belahan kedua; atau (2) membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil. Item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu dan yang bernomor genap juga dijadikan satu. Untuk menghitung reliabilitasnya skor total dari kedua belahan itu dikorelasikan.

9.    Penetapan Metode Penelitian
Penetapan metode penelitian mencakup : (i) penentuan subyek penelitian (populasi dan sampel), (ii) metode pengumpulan data(penyusunan angket) dan (iii) metode analisis data (pemilihan analisis statistik yang sesuai dengan jenis data)
10.    Pembuatan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah pedoman yang disusun secara sistematis dan logis tentang apa yang akan dilakukan dalam penelitian. Rancangan penelitian memuat: judul, latar belakang masalah, masalah, tujuan, kajian pustaka, hipotesis, definisi operasional, metode penelitian, jadwal pelaksanaan,  organisasi/tenaga pelaksana dan rencana anggaran.
11.    Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data  diperlukan kemampuan melacak peta wilayah, sumber informasi dan keterampilan menggali data. Untuk itu diperlukan pelatihan bagi para tenaga pengumpul data.

12.    Pengolahan, Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian
Pengolahan data meliputi editing, coding, katagorisasi dan tabulasi data. Analisis data bertujuan menyederhanakan data sehingga mudah dibaca dan ditafsirkan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Interpretasi bertujuan menafsirkan hasil analisis secara lebih luas untuk menarik kesimpulan.
13.    Menyusun Laporan Penelitian
Untuk memudahkan menyusun laporan maka diperlukan kerangka laporan out line.   Langkah-langkah atau prosedur penelitian tersebut kemudian oleh  divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut  :

Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :
a). Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
b)  Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
c)  Perumusan hipotesis  yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d)   Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis  yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.
e)  Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.

 F. Sistematika Penulisan Proposal Penelitian Kuantitatif
Proposal penelitian pada umumnya memuat 3 bagian, yaitu: bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Bagian awal memuat halaman judul, halaman persetujuan dan daftar isi. Bagian utama memuat latar belakang masalah, rumusan masalah/fokus penelitian, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, kegunaan hasil penelitian, penegasan istilah, tinjauan pustaka, kerangka konseptual, paradigma penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Sedangkan bagian akhir memuat daftar rujukan dan lampiran.
Sebagai acuan, proposal penelitian kuantitatif dapat dikemas dalam sistematika penulisan sebagai berikut:
I .    Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Kegunaan/Manfaat Penelitian
II.   Deskripsi Teori, Kerangka Berpikir, Dan Hipotesis
A. Deskripsi Teoretik
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
III.  Prosedur Penelitian
A. Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisis Data

IV.  Organisasi dan Jadwal Kegiatan Penelitian
A.  Organisasi Penelitian
B.  Jadwal Penelitian
V.   Biaya yang Diperlukan 

G.    Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan kualitatif
Hamidi menjelaskan setidaknya terdapat 12 perbedaan pendekatan kuantitatif dengan kualitatif   seperti berikut ini:
1. Dari segi perspektifnya penelitian kuantitatif lebih menggunakan pendekatan etik, dalam arti bahwa peneliti mengumpulkan data dengan menetapkan terlebih dahulu konsep sebagai variabel-variabel yang berhubungan yang berasal dari teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti. Kemudian variabel tersebut dicari dan ditetapkan indikator-indikatornya. Hanya dari indikator yang telah ditetapkan tersebut dibuat kuesioner, pilihan jawaban dan skor-skornya. Sebaliknya penelitian kualitaif lebih menggunakan persepektif emik. Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan informan.
2.   Dari segi konsep atau teori, penelitian kuantitatif bertolak dari konsep (variabel) yang terdapat dalam teori yang dipilih oleh peneliti kemudian dicari datanya, melalui kuesioner untuk pengukuran variabel-variabelnya.
Di sisi lain penelitian kualitatif berangkat dari penggalian data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau asli mereka, kemudian para responden bersama peneliti meberi penafsiran sehingga menciptakan konsep sebagai temuan. Secara sederhana penelitian kuantitatif berangkat dari konsep, teori atau menguji (retest) teori, sedangkan kualitatif mengembangkan ,menciptakan, menemukan konsep atau teori.
3.    Dari segi hipotesis, penelitian kuantitatif merumuskan hipotesis sejak awal, yang berasal dari teori relevan yang telah dipilih, sedang penelitian kualitatif bisa menggunakan hipotesis dan bisa tanpa hipotesis. Jika ada maka hipotesis bisa ditemukan di tengah penggalian data, kemudian “dibuktikan” melalui pengumpulan data yang lebih mendalam lagi.
4.    Dari segi teknik pengumpulan data, penelitian kuantitatif mengutamakan penggunaan kuisioner, sedang penelitaian kualitatif mengutamakan penggunaan wawancara dan observasi.
5. Dari segi permasalahan atau tujuan penelitian, penelitian kuantitatif menanyakan atau ingin mengetahui tingkat pengaruh, keeretan korelasi atau asosiasi antar variabel, atau kadar satu variabel dengan cara pengukuran, sedangkan penelitian kualitatif menanyakan atau ingin mengetahui tentang makna (berupa konsep) yang ada di balik cerita detail para responden dan latar sosial yang diteliti.
6.     Dari segi teknik memperoleh jumlah (size) responden (sample) pendekatan kuantitatif ukuran (besar, jumlah) sampelnya bersifat representatif (perwakilan) dan diperoleh dengan menggunakan rumus, persentase atau tabel-populasi-sampel serta telah ditentukan sebelum pengumpulan data.
Penelitian kualitatif jumlah respondennya diketahui ketika pengumpulan data mengalami kejenuhan. Pengumpulan datanya diawali dari mewawancarai informan-awal atau informan-kunci dan berhenti sampai pada responden yang kesekian sebagai sumber yang sudah tidak memberikan informasi baru lagi. Maksudnya berhenti sampai pada informan yang kesekian ketika informasinya sudah “tidak berkualitas lagi” melalui teknik bola salju (snow-ball), sebab informasi yang diberikan sama atau tidak bervariasi lagi dengan para informan sebelumnya. Jadi penelitian kualitatif jumlah responden atau informannya didasarkan pada suatu proses pencapaian kualitas informasi.
7.   Dari segi alur pikir penarikan kesimpulan penelitian kuantitatif berproses secara deduktif, yakni dari penetapan variabel (konsep), kemudian pengumpulan data dan menyimpulkan. Di sisi lain, penelitian kualitatif berproses secara induktif, yakni prosesnya diawali dari upaya memperoleh data yang detail (riwayat hidup responden, life story, life sycle, berkenaan dengan topik atau masalah penelitian), tanpa evaluasi dan interpretasi, kemudian dikategori, diabstraksi serta dicari tema, konsep atau teori sebagai temuan.
8.  Dari bentuk sajian data, penelitian kuantitatif berupa angka atau tabel, sedang penelitian kualitatif datanya disajikan dalam bentuk cerita detail sesuai bahasa dan pandangan responden.
9.  Dari segi definisi operasional, penelitian kuantitatif menggunakannya, sedangkan penelitian kualitatif tidak perlu menggunakan, karena tidak akan mengukur variabel (definisi operasional adalah petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur). Jika penelitian kualitatif menggunakan definisi operasional, berarti penelitian telah menggunakan perspektif etik bukan emik lagi. Dengan menetapkan definisi operasional, berarti peneliti telah menetapkan jenis dan jumlah indikator, yang berarti telah membatasi subjek penelitian mengemukakan pendapat, pengalaman atau pandangan mereka.
10. (Dari segi) analisis data penelitian kuantitatif dilakukan di akhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara “mengangsur atau menabung” informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai terakhir memberi interpretasi.
11. Dari segi instrumen, penelitian kualitatif memiliki instrumen berupa peneliti itu sendiri. Karena peneliti sebagai manusia dapat beradaptasi dengan para responden dan aktivitas mereka. Yang demikian sangat diperlukan agar responden sebagai sumber data menjadi lebih terbuka dalam memberikan informasi. Di sisi lain, pendekatan kuantitatif instrumennya adalah angket atau kuesioner.
12. Dari segi kesimpulan, penelitian kualitatif interpretasi data oleh peneliti melalui pengecekan dan kesepakatan dengan subjek penelitian, sebab merekalah yang yang lebih tepat untuk memberikan penjelasan terhadap data atau informasi yang telah diungkapkan. Peneliti memberikan penjelasan terhadap interpretasi yang dibuat, mengapa konsep tertentu dipilih. Bisa saja konsep tersebut merupakan istilah atau kata yang sering digunakan oleh para responden. Di sisi lain, penelitian kuantitatif “sepenuhnya” dilakukan oleh peneliti, berdasarkan hasil perhitungan atau analisis statistik.
G.    Penutup
Metode kuantitatif disebut sebagai  metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode penelitian. Juga disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme.  Metode ini juga sebagai metode ilmiah atau scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, byektif, terukur, rasional, dan sistematis.
Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.  Proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah-langkahnya jelas, mulai dari penyusunan latar belakang masalah; identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah; perumusan tujuan dan manfaat penelitian; telaah pustaka; pembentukan kerangka teori; perumusan hipotesis; serta definisi operasional dan klasifikasi variabel penelitian.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Fajar, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga
Ace Suryadi, Teori dan Praktek Perumusan Masalah Dalam Penelitian Sosial Keagamaan, Makalah Tidak Diterbitkan, 2000.
Ancok, Djamaluddin. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Yogyakarta: PPK UGM. 1989.
Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif.  Jakarta: Raja Grafindo.2003.
Danim, Sudarwan. Menjadi Peneliti Kualitatif.  Bandung: Pustaka Setia. 2002.

Djamaluddin Ancok, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran; PPK UGM, Yogyakarta, 1989.
Hamidi. Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press. 2004
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik .2001.
Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1973.      
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.2002.
Sugiono,  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Penerit Alfabeta. Bandung, 2010
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1992
Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos: Jakarta, 1997.







   
         Nama  : Endun Abdul Karim
TTL    : Majalengka, 20 Maret 1980
Pendidikan Terakhir  : S1 IAIN
Alamat Rumah  : Dsn Margamulya Rt 03 / Rw 03 Ds. Pasir Kecamatan Palasah Kab. Majalengka
No. HP  : 085295548324
Tempat Kerja  : MTs Al-Mizan Ciborelang
Alamat Email : 03abdulkarim@gmail.com
Alamat Website : endunkarim. Blogspot.com

     Nama  : Fawaz
TTL    : Cirebon, 22 Nopember 1977
Pendidikan Terakhir  : S1 IAIN
Alamat Rumah  :  Jl. Yanuda no 175 Rt 04/ Rw 04 Ds. Munjul Kecamatan Astanajapura Kab. Cirebon
No. HP  : 085864740001
Tempat Kerja  : MA Nurul Huda Munjul
Alamat Email : fawaz.zen@gmail.com
Alamat Website : fawaz.zen.blogspot.com

     Nama  : Heri Sambasari
TTL    : Karawang , 03 Nopember 1975
Pendidikan Terakhir  : S1 IAIN SGD bandung
Alamat Rumah  :  Jln. Mayor Syamso No. 2 Rt 01/ Rw 03 Ds. Jayaraga Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut
No. HP  : 085793741107
Tempat Kerja  : MA Al-Musaddadiyah Garut
Alamat Email : herisambasari75@gmail.com
Alamat Website:herisambasariahe75.blogspot.com

     Nama  : Ike Handayani
TTL    : Jakarta, 10 Juni 1973
Pendidikan Terakhir  : S1 IAIN Syahid Jakarta
Alamat Rumah  :  Jln. Masjid al-Huda Rt 02/ Rw 17 no. 60 Kmp. Rawalele-Jombang-Ciputat
No. HP  : 081319207436
Tempat Kerja  : MTs Soebono Mantofan
Alamat Email : ikehandayani6@gmail.com
Alamat Website : ikehandayani6.blogspot.com

     Nama  : Irwan Irawan
TTL    : Bandung, 30 Nopember 1982
Pendidikan Terakhir  :  S1 IAIC Cipasung Tasik
Alamat Rumah  :  Jl. Salamanjah Rt 04/Rw 04 Ds. Mekarmaju Kec. Pasir Jambu Kab. Bandung 40972
No. HP  : 085314194004
Tempat Kerja  : MTs Al-Barkah
Alamat Email : irwanirawanfqh@gmail.com
Alamat Website : irwanirawanfqh.blogspot.com

     Nama  : Mardani
TTL    : Jakarta, 10 Juni 1981
Pendidikan Terakhir  : S 1
Alamat Rumah  :  Jln. KH.Hasyim Rt 05/ Rw 01 Kemboja utara- Jakarta Barat
No. HP  : 085694249090
Tempat Kerja  : MTs Sa’adatuddarain
Alamat Email : awzaiy@gmail.com
Alamat Website : bangdany.blogspot.com

     Nama  : Mohammad Luthfi Yusuf,NZ
TTL    : Cirebon, 26 April 1978
Pendidikan Terakhir  : S2 UIN Jakarta
Alamat Rumah  :  Buntet Pesantren Ds. Mertapada Kulon Kec. Astanajapura – Kab. Cirebon
No. HP  : 081324184566
Tempat Kerja  : MAN Buntet Pesantren
Alamat Email : lutfinz@gmail.com
Alamat Website :

     Nama  : Nashihuddin
TTL    : Cirebon, 23 Juli 1976
Pendidikan Terakhir  : S2 UIN SGD Bandung
Alamat Rumah  :  Ds. Pasawahan Rt 02/Rw 02 no. 11 Kec. Susukanlebak Kab. Cirebon 45185
No. HP  : 0877700030002209
Tempat Kerja  : MA Yatamu Pasawahan
Alamat Email : nashihuddin.yatamu@gmail.com
Alamat Website : mayapas.blogspot.com

     Nama  : Odih Ahdiyat
TTL    : Lebak, 04 Oktober 1987
Pendidikan Terakhir  : S1 Latansa Mashiro
Alamat Rumah  :  Kp. Rancagawe Ds. Cikatapis Kec. Karanganyar Kab. Lebak - banten
No. HP  : 081910916007
Tempat Kerja  :
Alamat Email : odihahdiyat@gmail.com
Alamat Website :

     Nama  : Ridaningsih
TTL    : Cianjur, 11 Agustus 1975
Pendidikan Terakhir  : S1 uin Bandung
Alamat Rumah  :  Blok Nambo Ds. Gantar Kec Gantar Kab. Indramayu
No. HP  : 081313746434
Tempat Kerja  : MA Al-Zaytun Indramayu
Alamat Email : ningsihrida@gmail.com
Alamat Website : ridaningsih.blogspot.com

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Mardani | bang dany
Copyright © 2011. MA "TARBIYATUL MUTA'ALLIMIN" Pasawahan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger